Jumat, 29 Mei 2020

Pentingnya Budaya Literasi

Indonesia Darurat Literasi? Bukan Hanya Perut, Otak Pun Butuh Asupan



Hasil skor Indonesia pada Programme For International Student Assessment (PISA) yang dirilis The Organisation For Economic Co. Operation and Development (OECD). Menunjukkan kemampuan literasi membaca anak Indonesia meraih skor 371. Jauh di bawah rata-rata yakni 487.
Demikian hasil akhir sebuah survei yang dilakukan oleh organisasi dunia terkait kenaikan mutu pendidikan di beberapa negara, termasuk juga negara yang kita cintai yaitu Indonesia. Pantas jika disebut ‘Indonesia Darurat Literasi'. Skor ini menunjukkan mutu pendidikan sebuah negara yang diambil atas beberapa aspek, yaitu aspek budaya literasi membaca. Tentu hal ini membuat kita semua terperangah mendengar semua ini. Bagaimana tidak, Indonesia yang terkenal sebagai negara terbanyak penduduknya ke-4 di dunia ini, belum berhasil membuat bangsanya cerdas. Mengapa seperti itu, karena tingkat kecerdasaan bisa diukur dari bagamainan ia menyelesaikan suatu masalah dan bertindak terhadap sesuatu. Menyelesaikan masalah dan bertindak terhadap sesuatu bisa diukur oleh pola pikir dan pola pikir bisa didapati dari berapa banyak orang itu membaca.

Sebagian mereka menyangka bahwa dirinya telah berilmu, sehingga tidak perlu lagi membaca dan menelaah. Mereka merasa cukup dengan gelar, ijazah, pangkat dan jabatan yang diraih.   Kesombongan yang telah melekat di dalam diri kita mengakar ke semua aspek tubuh kita, sehingga keinginan untuk menambah suatu ilmu tidak akan nampak, padahal bertambah ilmu yang kita dapat hakikatnya semakin kita merasa paling bodoh karena semakin kita mengerti bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Bahkan, ada manusia yang memang dalam kesehariannya bermalas-malasan hanya membiarkan tubuh dan kepalanya selalu di atas tempat tidurnya dan tidak ada niat yang timbul dalam jiwanya untuk mempelajari suatu cabang ilmu, manusia yang seperti ini hakikatnya telah membiarkan dirinya terjatuh di lubang kebodohan yang dalam dan gelap, tidak akan ada yang dapat menolongnya selain dirinya sendiri.

‘Bukan hanya perut, otak pun butuh asupan’ sepenggal judul ini yang membuat diri saya merasa tertarik membuat esai ini. Namun, kenyataannya memang seperti itu otak adalah organ dalam tubuh yang terletak di dalam kepala kita. Fungsi otak menyimpan semua memori yang sudah kita dapati berupa segala pengetahuan dan informasi. Pengetahuan dan informasi didapati dari budaya literasi. Jika budaya literasi tidak kita lakukan, maka otak pun kosong tidak ada asupan pengetahuan yang masuk. Budaya literasi yaitu membaca dan menulis di kalangan masyarakat (secara umum) dan siswa sekolah (secara khusus). Tanpa membaca dan menulis manusia akan tertinggal informasi, sehingga mengabaikan keputusan penting dalam kehidupannya.
Lalu dalam dunia pendidikan literasi adalah suatu hal yang menjadi keharusan. Siswa tidak akan bisa mendapatkan segala pengetahuan bila tidak membudayakan budaya literasi ini. Dalam Islam pun budaya literasi dianggap yang terpenting. Maka dari itu, di sini saya akan mencoba menguraikan beberapa sebab dan solusi terhadap permasalahan rendahnya minat budaya literasi membaca anak-anak Indonesia. Semua ini ditujukan agar pendidikan Indonesia dapat tumbuh menjadi lebih baik lagi. Dan dapat membentuk siswa yang berkarakter, berakhlak, dan berbudi pekerti islami.

Isi
Berdasarkan riset lima tahunan Progress Internasional Reading Literacy Study (PIRLS), yang melibatkan siswa SD. Indonesia berada di posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.  Memang sungguh miris saat kita tahu bahwa negara ini darurat literasi membaca. Negara yang terkenal dengan keramahan para penduduknya, tetapi dalam hal kemampuan dan pengetahuan Indonesia kalah jauh. Irfan Amali menuliskan bahwa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, banyak para siswa yang rata-rata dapat menamatkan membaca lima buku pertahun, sedangkan negara-negara di Benua Eropa dapat menamatkan puluhan buku pertahun.  Perlu ada langkah nyata untuk mengatasi peristiwa ini. Pendidikan sebuah wadah yang pantas dan tepat untuk membangun budaya literasi karena dari suatu budaya atau kebiasaan harus selalu dibiasakan sejak kecil agar dewasa sudah melekat dalam diri.

Secara umum, literasi adalah kemampuan individu di dalam mengelola serta memahami informasi pada saat menulis ataupun membaca. Menurut pengertian di atas, kata literasi meliputi pengetahuan baca dan tulis. Walaupun kata literasi bukan hanya sekedar itu, namun juga berasosiasi, dan membaca situasi.  Makna literasi sebenernya sangat luas tidak digunakan untuk baca dan tulis, namun juga dapat dipakai seperti literasi digital, literasi teknologi, literasi informasi, dll.
Bagi PIRLS, literasi membaca digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan bahasa tulis yang diperlukan oleh masyarakat atau individu.  Pemahaman terhadap apa yang ada ditulisan ialah termasuk membaca. Tulisan yang ada di buku akan secara otomatis tersimpan di dalam otak dan pikiran dengan penyimpanan yang entah bisa bertahan lama ataupun tidak. Tulisan dalam buku yang telah kita baca itu tidak akan sama persis jika kita tuangkan dalam bentuk tulisan atau yang keluar dari mulut kita, pasti akan berbeda. Namun, itu adalah suatu hal yang bagus yang akan membuat kita kreatif dan pandai mengeluarkan pendapat pribadi kita. Semakin kita banyak membaca semakin banyak pula pendapat dan pengetahuan yang kita milki dalam diri kita sendiri.
Dalam pengertian Bahasa Arab istilah kata membaca berasal dari kata qara’a yang artinya membaca dan iqra’ yang artinya bacalah. Kata ini dalam Islam adalah kata yang termasuk di dalam ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Ayat 1-5 dalam surat Al-Alaq ini menggambarkan kepada kita semua kedudukan literasi membaca dalam Islam sangatlah penting. Ayat tersebut berbunyi, yaitu:



Sudah jelas surah Al-Alaq 1-5 di atas Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan seluruh umat manusia untuk membaca. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang mulia yang apabila membacanya walau hanya 1 huruf pun mendapatkan nilai ibadah. Berarti dalam kata lain membaca adalah suatu kegiatan yang mulia. Bila siswa ingin mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, maka harus mulai membudayakan membaca. Yusuf Qardawi mengungkapkan bahwa ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, merupakan petunjuk akan keutamaan belajar dan ilmu pengetahuan. Perintah membaca merupakan kunci ilmu pengetahuan dan alat untuk mentransformasikannya menggunakan qalam.


Iqra’ sama dengan reading. Reading yang dimaknai oleh Paulo Freire pada hakikatnya ternyata sama dengan makna iqra’. Reading is not walking on the word, it’s grasping the soul of them. Membaca bukan hanya berjalan pada banyak kata-kata, tetapi menangkap jiwa kata-kata tersebut.  Kalimat ini bermakna bahwa membaca bukan hanya kita mengucapkan kata-kata yang ada di buku, akan tetapi lebih dalam lagi yaitu memahami setiap kata-kata tersebut dan menyimpannya dalam memori ingatan kita.

Secara kenyataan membaca memang suatu hal yang membosankan. Duduk sambil memegang buku rasanya tidak nyaman, akan lebih nyaman kalau duduk sembari memegang benda berlayar kotak yang menyala (Gawai) rasanya akan lebih mengasikkan. Apalagi, para peserta didik mereka lebih senang main di luar rumah dengan teman-temannya dibandingkan disuruh untuk duduk diam lalu membaca buku, itu suatu hal yang pasti dibenci oleh mereka. Fakta rendahnya minat baca anak Indonesia adalah tidak adanya integrasi nyata, jelas, dan tegas antara mata pelajaran yang diberikan di sekolah dengan kewajiban siswa untuk membaca.  Seharusnya sekolah menjadi tempat yang nyaman untuk kegiatan belajar, jangan hanya mereka disuruh untuk mendengarkan penjelasan gurunya, akan tetapi mereka harus dilatih budaya literasi agar minat bacanya meningkat.

Membudayakan literasi membaca mampu meningkatkan prestasi akademik siswa. Dengan banyak membaca pula dapat menciptakan anak yang tumbuh mempunyai jiwa yang kritis terhadap suatu ilmu pengetahuan yang belum diketahui. Membaca merupakan salah satu cara terbaik untuk menghasilkan nutrisi dan gizi literasi yang menyehatkan pikiran anak. Untuk itu, sedini mungkin anak harus dikondisikan untuk hobi membaca.  Tubuh yang sehat ialah tubuh yang bergizi baik. Badan dan kepala termasuk anggota badan manusia, jadi antara kedua itu harus seimbang. Badan agar bergizi baik diberikan asupan makanan dan vitamin, lalu kepala dalam hal ini otak agar bergizi baik diberikan asupan yang cukup yaitu dengan banyak membaca.
Berikut beberapa tujuan membudayakan literasi, yaitu:
a. Meningkatkan kemampuan memahami bacaan dan berpikir kritis.
b. Meningkatkan kemampuan menganalisis dan kemampuan verbal dalam mengulas informasi yang telah didapati dari bacaan.
c. Mengembangkan kearifan lokal, nasioanal, dan global.

Pendidikan dan literasi adalah suatu hal yang sangat penting. Mutu pendidikan akan maju dan meningkat apabila para siswanya berprestasi.  Siswa tidak akan berprestasi jika tidak banyak membaca. Dalam hal ini orang tua, guru, dan pemerintah harus memeliki peran yang penting. Gagasan tentang model literasi di Indonesia pernah digagas oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI,  Anis Baswedan melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuh Budi Pekerti. Pengejawantahan Permendikbud tersebut yakni kegiatan wajib membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran, khususnya siswa SD, SMP, dan SMA.  Langkah ini sudah sangat bagus untuk membangunkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Siswa harus diwajibkan membaca buku. Bebaskan mereka untuk membaca buku jenis apapun yang mereka sukai contohnya karya fiksi, seperti novel, puisi, cerpen, dll. Buku semacam itu akan membangun daya kreatifitas mereka seperti kesenian dan daya nalar.

Para Nabi dan Ulama Islam dahulu benar-benar sangat mengedepankan budaya membaca karena membaca termasuk cara menuntut ilmu yang mulia. Dedikasi mereka dalam menuntut ilmu sungguh sudah tidak diragukan lagi karena menurut mereka ilmu mempunyai kedudukan yang sangat mulia, seperti kisahnya Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS.

Al-Mawardi menyebutkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Jika seseorang merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, niscaya Musa AS juga akan merasa cukup Ilmunya dan tidak mau berguru dengan Nabi Khidir AS. Padahal, dia berkata, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajariku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ (Al-Kahfi [18]:66).”  Ayat ini menggambarkan bahwa para Nabi yang sudah dijamin masuk surga masih tetap terus ingin mencari ilmu.

Tidak hanya itu para tokoh-tokoh yang terkenal pun juga mencintai budaya literasi, seperti Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Bung Karno secara terang-terangan mengagumi pemikiran Mahatma Gandhi, J. Krishnamurti dan Swami Vivekanda lewat buku-buku mereka. Bahkan beliau juga menulis buku, seperti Indonesia Menggugat, Di Bawah Bendera Revolusi, dll.  Beberapa tokoh dunia pun tidak ketinggalan. Glen Donan mengungkapkan bahwa membaca menjadi dasar dalam proses belajar yang akan dimanfaatkan dalam kehidupan, dan Dr. Roger Farr menambahkan, bahwa membaca merupakan ruh atau jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan ibarat benda mati. Tanpa membaca pendidikan tidak akan hidup.

Walau memang tidak mudah bagi para guru dan orang tua agar anak-anaknya mulai membudayakan membaca. Bagi para orang tua tunjukkanlah kecintaan anda membaca di hadapan anak-anak, maka mereka Insya Allah akan mengembangkan kecintaan yang serupa. Ceritakan kepada mereka bagaimana membaca dapat memberikan kepada kita banyak hal, maka mereka akan belajar mengembangkan persepsi positif terhadap membaca.  Ada satu hal yang paling terpenting menurut saya, yaitu jangan pernah melarang mereka membaca jenis-jenis buku selain buku pelajaran. Biarkan saja mereka baca yang disukai karena memang menurut mereka membaca buku pelajaran bisa membosankan dan membuat kepalanya penat. Jadi, bebaskan mereka dalam memilih jenis buku. Nanti lama-kelamaan anak akan menjadi terbiasa membangun literasinya.
Ada 6 langkah terbaik agar anak mau membudayakan membaca:
1. Mintalah mereka membaca dengan bersuara, jangan membaca di dalam hati.
2. Hargailah setiap perkembangannya.
3. Ciptakan suasana yang selalu mengenakkan.
4. Suruh mereka berpasangan atau berkelompok dengan teman-temannya untuk saling membaca.
5. Buat lokasi tempatnya membaca yang nyaman.
6. Berikan makan/cemilan ketika anak sedang membaca. Ini akan membuat dia senang.

Dalam menumbuhkan budaya literasi membaca siswa, harus ada sosok yang menjadi peran dalam mengembangkan budaya ini. Sosok guru yang sangat dekat ketika mereka di sekolah merupakan sosok yang paling strategis. Guru dalam mengajar suatu pelajaran kepada para peserta didik harus mempunyai agenda untuk mewajibkan siswa untuk membaca buku, baik itu buku pelajaran maupun buku lainnya. Orang tua sebagai sosok yang paling dekat dan selalu di samping anaknya harus mewajibkan anaknya membaca buku. Belikan mereka buku sebanyak mungkin, beri mereka kebebasan dalam membaca. Membaca sebetulnya tidak hanya didapatkan dari buku saja, melainkan dari gawai pun budaya baca bisa dilakukan. Maka dari itu, para orang tua harus terus memantau anak-anaknya untuk terus membaca.

Tidak kalah penting mahasiswa sebagai agen perubahan sosial harus pula ikut dalam membangun budaya literasi ini. Budaya ini bisa dilakukan di kampus dan di masyarakat. Bagi mahasiswa membaca amatlah penting karena setiap ide yang akan kita perlukan ke depannya hanya didapati dari budaya literasi. Pespustakaan yang besar dan lengkap harus benar-benar dimanfaatkan oleh mahasiswa. Semua buku tersedia dan tempat yang nyaman pastinya akan lebih mengasikkan jika mahasiswa ingin membaca.

Maka dari itu saya mengajurkan kepada diri saya sendiri dan para pembaca esai saya ini untuk ikut membudayakan literasi. Banyak sekali cara untuk membudayakan literasi tinggal kita sendiri yang dari sekarang harus mempunyai niat yang kuat untuk membaca buku-buku yang telah diciptakan oleh para penulis handal. Dengan membaca cakrawala pikiran akan terbuka. Dengan membaca akan membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki jiwa kritis. Para Nabi, Ulama, dan Pakar-pakar dunia sudah membuktikan bahwa budaya ini sangatlah penting dan memiliki nilai manfaat yang tidak terhingga. Dedikasi mereka dalam menuntut ilmu tidak pernah lekang oleh waktu karena prinsip mereka dengan membaca manusia akan mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Dengan membaca akan membentuk karakter, sikap, dan akhlak yang baik dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Jadi, marilah kita mulai membudayakan literasi ini. Harus diingat untuk mencapai puncak kita harus berdiri di atas buku yang telah kita baca. Maknanya, kita akan mencapai kesuksesan hidup bila sudah membaca buku dan menguasai berbagai macam ilmu.













Daftar Pustaka

Adhim, Muhammad Fauzil. 2007. Membuat Anak Gila Membaca. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Al-‘Imran, Ali bin Muhammad. 2016. Gila Baca ala Ulama. Solo: Kuttab Publishing.
Darmawan, Elizabeth Tjahja. 2017. Ngopi Dulu. Yogyakarta: Deepublish.
Fathollah, Moh Fauzan. 2018. Perintah Literasi Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Relevansinya Terhadap Program Nawacita Indonesia Pintar. Surabaya: UIN Sunan Ampel.
Gong, Gol A, dan Agus M. Irkham. 2012. Gempa Literasi. Jakarta: PT Gramedia.
Jalil, Jasmin. 2018. Pendidikan Karakter: Implementasi Oleh Guru, Kurikulum, dan Sumber Daya Pendidikan. Sukabumi: CV Jejak.
Kurniawan, Heru. 2018. Literasi Parenting. Jakarta: PT Elex Media.
Laksono, Kisyani, dkk. 2016. Pendukung Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lestari, Ayu. 2016. Kiat-kiat Cerdas Cendikiawan Muda Islam. Jakarta: PT Elex Media.
Malawi, Ibadullah, dkk. 2017. Pembelajaran Literasi Berbasis Sastra Lokal. Magetan: Media Grafika.
Mujib, Ahmad. 2016. Literasi Dalam Al-Qur’an dan Terhadap Pengembangan Epistemologi Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo: IAIN Ponorogo.
Mustaqim, Muhammad Amirul Alif. 2018. Peranan Guru PAI Dalam Meningkatkan Budaya Literasi  Pada Siswa Di MAN Sukaharjo. Surakarta: IAIN Surakarta.
Ratnawati, Anik Beti. 2017. Program Literasi Dalam Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII SMPN 20 Sragen. Surakarta: IAIN Surakarta.
Tjahjadi, Djohan Diaz (Penterjemah). 2013. Cara-cara Terbaik Mengajar Reading. Jakarta: PT Indeks.